Memupuk Rasa Percaya Diri Pada Anak
Ketika kita menginginkan anak-anak didik kita dapat melakukan sesuatu dengan baik, mereka tidak harus menjadi seseorang yang sangat hebat. Akan tetapi, mereka harus merasa luar biasa karena berhasil melakukannya dan merasa tertarik pada yang dilakukan, tidak peduli apakah kegiatan tersebut berkaitan dengan mata pelajaran, hobby atau berinteraksi dengan orang lain. Anak tidak perlu menjadi “number one” dalam setiap aktivitas, yang terpenting mereka dapat menikmati setiap kegiatan yang dilakukan.
Tujuan pendidikan yang penting bagi para guru dan orang tua adalah membantu anak-anak menemukan kegiatan yang menarik bagi mereka dan kemudian melakukan secara lebih baik. Dengan cara ini, kalimat “ Saya sedang bermain tenis “ lebih memberikan harapan dalam jangka panjang bagi pendidikan anak-anak dibandingkan dengan pernyataan “ Saya seorang pemain tenis yang hebat” Masalah besar bagi keberhasilan pendidikan dewasa ini dan di masa depan nanti bukan terletak pada apa yang telah anak-anak ketahui, tetapi terletak pada apa yang sedang anak-anak pelajari dan pada kemampuan untuk belajar.
Rasa percaya diri adalah merasa mampu melakukannya “ I can do it” Kita tahu apa yang sedang kita dengar ketika anak-anak berkata : “Aku tidak dapat melakukannya”
“Anak yang lain lebih baik dibandingkan aku”
“ Aku takut”
“ Aku tidak mau mencobanya”
Kita sering mendengar anak menyuarakan keinginan untuk memperoleh rasa percaya diri yang lebih besar. Keinginan ini menyayat hati kita. Kadangkala ketika anak-anak kita tidak merasa percaya diri, kita merasa rasa percaya diri kita juga hilang.
Tujuan pendidikan yang penting bagi para guru dan orang tua adalah membantu anak-anak menemukan kegiatan yang menarik bagi mereka dan kemudian melakukan secara lebih baik. Dengan cara ini, kalimat “ Saya sedang bermain tenis “ lebih memberikan harapan dalam jangka panjang bagi pendidikan anak-anak dibandingkan dengan pernyataan “ Saya seorang pemain tenis yang hebat” Masalah besar bagi keberhasilan pendidikan dewasa ini dan di masa depan nanti bukan terletak pada apa yang telah anak-anak ketahui, tetapi terletak pada apa yang sedang anak-anak pelajari dan pada kemampuan untuk belajar.
Rasa percaya diri adalah merasa mampu melakukannya “ I can do it” Kita tahu apa yang sedang kita dengar ketika anak-anak berkata : “Aku tidak dapat melakukannya”
“Anak yang lain lebih baik dibandingkan aku”
“ Aku takut”
“ Aku tidak mau mencobanya”
Kita sering mendengar anak menyuarakan keinginan untuk memperoleh rasa percaya diri yang lebih besar. Keinginan ini menyayat hati kita. Kadangkala ketika anak-anak kita tidak merasa percaya diri, kita merasa rasa percaya diri kita juga hilang.
Melatih Percaya Diri
Mengenalkan pengalaman yang membentuk rasa percaya diri dapat merupakan tantangan bagi anak-anak. Harapan-harapannya harus cukup kecil sehingga dapat diatasi oleh anak-anak, tetapi juga harus cukup besar untuk mendorong adanya perkembangan, dan cukup mudah bagi orang tua atau guru untuk ikut terlibat di dalamnya.
Mengenalkan pengalaman yang membentuk rasa percaya diri dapat merupakan tantangan bagi anak-anak. Harapan-harapannya harus cukup kecil sehingga dapat diatasi oleh anak-anak, tetapi juga harus cukup besar untuk mendorong adanya perkembangan, dan cukup mudah bagi orang tua atau guru untuk ikut terlibat di dalamnya.
Misalnya :
- Telepon, dapat ditemukan pada hampir semua rumah, cocok digunakan sebagai latihan percaya diri. Dengan menggunakan telepon anak-anak dapat membaur keluar secara sosial untuk memperoleh latihan awal dalam seni percakapan, berinteraksi dengan teman dan lingkungan disekitarnya. Dari sini anak-anak dapat memberikan atau memperoleh informasi khusus.
- Media TV
Diskusikan dengan anak berkaitan dengan acara yang orang tua sukai. Lingkari acara yang orangtua pilih. Anak-anak perlu mendengar penilaian orang tuanya. Ini dapat membantu anak membangun ketrampilan melihat sesuatu secara kritis. - Keluarga.
Anak-anak senang mengetahui lebih banyak tentang diri mereka sendiri. Orang tua menyukai kegiatan ini karena membantu anak-anak berpikir serius tentang diri mereka dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang memiliki kesan lucu dan tawa sehingga menimbulkan suasana positif. - Pentingnya ”saya”
Kegiatan ini membantu anak-anak membentuk rasa bangga pada diri sendiri. Misal : Anak dapat menuliskan pada poster didinding kamarnya ” Lihat aku ketika berumur empat tahun” dan anak dapat menempelkan beberapa foto-foto saat berusia empat tahun yang menjadi favoritnya. Gantung poster di tempat untuk dilihat dan dinikmati semua orang. Kegiatan ini menyatakan pada anak, ” Engkau istimewa, dan keluargamu mengetahuinya ” - Di sekolah,
Mengajak anak-anak mengekspresikan diri melalui karya seni dan ketrampilan. Anak menuangkan idenya dalam karya seni tiga dimensi. Misalnya : guru mengajak anak menggambar pada media pot tanah kemudian mewarnainya dengan warna-warni yang serasi. Hasil kreativitas anak di pajang di depan kelas. Hal ini dapat melatih rasa percaya anak bahwa mereka mampu menuangkan ide-ide yang ada dipikirannya dengan bebas.
Kerja Tim/kelompok.
Dalam membahas suatu materi yang dianggap cukup sulit, guru membagi anak-anak dalam kerja tim/kelompok. Dalam kelompok mereka berdiskusi tentang materi. Masing-masing anak bebas mengungkapkan pendapatnya secara lisan maupun tulisan. Satu orang selaku wakil kelompok mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas. Hasil diskusi diamati dan dikomentari oleh teman kelompok lain.
Pembiasaan,
Disetiap sekolah anak-anak dididik untuk perduli pada lingkungan sekitarnya. Misalnya : Mengajak menata kebun sekolah, anak diajak menanam sendiri tanaman yang dibawanya, setiap hari anak-anak merawat tanaman tersebut. Hasilnya : Anak-anak bangga tanamannya tumbuh subur dan berbunga...

0 komentar:
Posting Komentar